Oleh: Dr. H. Mubarak, S.Pd.I, M.Pd.I
SAJAK.ID – “Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya.” Adagium klasik ini bukan sekadar retorika pelipur lara bagi mereka yang harus turun panggung, melainkan sebuah hukum besi sejarah (sunnatullah) yang tak terelakkan. Dalam konteks organisasi pergerakan, waktu adalah hakim yang paling adil. Ia tidak bisa disuap, tidak bisa diperlambat, dan tidak bisa diputar ulang.
Pada tanggal 24 Januari 2026, lonceng sejarah telah berdentang bagi Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kabupaten Kutai Kartanegara. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Presidium Majelis Wilayah KAHMI Kalimantan Timur Nomor: 004/KPTS/A/KAHMI KALTIM/I/2022, masa bakti kepengurusan periode 2021-2026 secara de jure dan de facto telah berakhir. Berakhirnya masa berlaku SK ini bukan sekadar formalitas administratif, ia adalah garis demarkasi yang tegas antara legitimasi, otoritas dan demisioner.
Sebagai sebuah entitas tempat berhimpunnya para cendekiawan dan aktivis muslim, KAHMI tidak boleh terjebak dalam romantisme yang berlarut-larut. Organisasi ini didirikan di atas fondasi intelektualitas dan independensi. Oleh karena itu, momentum berakhirnya kepengurusan di bawah komando Kanda Dr. Sarkowi V Zahry, S.Hut, SH, M.Si, MM, M.Ling, harus dimaknai sebagai titik pijak untuk melakukan muhasabah (introspeksi) total, sekaligus meneroka (interpretasikan: menjelajah dan memetakan) arah baru bagi organisasi ini di tengah gempuran zaman yang kian disruptif.
Musyawarah Daerah (Musda) yang akan dihelat pada 16 Februari 2026 di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, bukan sekadar ritual lima tahunan untuk menggugurkan kewajiban konstitusi organisasi. Di gedung yang menjadi simbol kekuasaan dan pusat pemerintahan Kukar itu, KAHMI akan mempertaruhkan marwahnya: Apakah hanya akan menjadi penonton dalam sejarah daerah ini, atau kita akan melahirkan nakhoda baru yang bervisi jelas: adaptif dan kontributif bagi perjalanan daerah. Mampukah kita (tanyakan pada diri kita sebagai kader KAHMI!) melahirkan Presidium yang terlibat langsung dalam geliat pembangunan di daerah.
Tulisan singkat ini merupakan sebuah refleksi kritis, ijtihad pemikiran untuk mengevaluasi jejak langkah lima tahun ke belakang, dan merumuskan postulat-postulat baru bagi kepemimpinan masa depan 2026-2030.
Refleksi Era Sarkowi V Zahry (2021-2026): Antara Ekspektasi dan Realitas Kinerja
Lima tahun lalu, ketika amanah kepemimpinan disematkan ke pundak Kanda Dr. Sarkowi V Zahry beserta jajaran presidium lainnya, harapan yang membubung di langit Kutai Kartanegara begitu tinggi. Sosok beliau, dengan deretan gelar akademik dan pengalaman birokrasi-politik yang panjang (S.Hut, SH, M.Si, MM, M.Ling), dipandang sebagai personifikasi ideal dari “Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam”. Beliau adalah representasi dari sintesis intelektual dan praktisi politik yang diharapkan mampu membawa KAHMI Kukar terbang tinggi.
Dalam organisasi kader seperti KAHMI, jejak kaki yang ditinggalkan Dr. Sarkowi V Zahry di lapangan pengabdian telah mampu menaikkan citra positif KAHMI di daerah, meski dinamika politik dan pembangunan daerah belum sepenuhnya berpihak pada KAHMI, baik secara jejak organisatoris maupun individu kadernya. Kita perlu bertanya: Sejauh mana KAHMI Kukar mewarnai kebijakan publik di Kutai Kartanegara selama lima tahun terakhir? Apakah distribusi kader di sektor strategis (birokrasi, akademisi, swasta, penyelenggara pemilu) terjadi karena by design organisasi, atau hanya karena ikhtiar individu masing-masing kader (autopilot)? Bagaimana konsolidasi internal? Apakah KAHMI hanya “hidup” di saat ada momentum politik dan mati suri saat masa tenang?
Harus diakui, memimpin organisasi paguyuban intelektual seperti KAHMI adalah ‘seni memimpin para jenderal.’ Tidak mudah memang, karena semuanya orang-orang pintar. Namun, justru disitulah ujian kepemimpinannya. Jika selama lima tahun KAHMI Kukar hanya menjadi event organizer kegiatan seremonial tanpa outcome kebijakan yang jelas, maka kita harus berani mengatakan bahwa kepengurusan ini memiliki catatan merah yang harus dibayar lunas oleh pengurus berikutnya.
Kriteria Nakhoda Baru (2026-2030): Mencari Figur Pemersatu dan Pendobrak
Pemilihan Pendopo Odah Etam sebagai lokasi Musda pada 16 Februari 2026 mengandung semiotika yang kuat. Odah Etam adalah pusat gravitasi politik dan pemerintahan Kukar. KAHMI, dengan memilih tempat ini, seolah ingin menegaskan posisinya sebagai mitra strategis (sekaligus kritis) bagi pemerintah daerah.
Siapapun yang terpilih pada tanggal 16 Februari nanti akan memikul beban sejarah yang berat. Kita tidak sedang mencari “Superman”, tetapi kita mencari “Superteam” dalam bentuk Presidium yang kolektif-kolegial. Namun, tetap dibutuhkan figur sentral (Koordinator) yang kuat. Apa kriteria kader yang layak memimpin KAHMI Kukar ke depan?
Intelektual-Organik dalam arti Calon Pimpinan KAHMI Kukar haruslah seorang intelektual yang kakinya tetap memijak bumi. Ia paham teori langit (akademis/religius), tapi ia juga mengerti bahasa jalanan dan bahasa birokrasi. Ia tidak canggung berdiskusi dengan Rektor, tapi juga luwes “ngopi” dengan kader HMI yang masih mahasiswa.
Jaringannya Luas (Networking), dalam arti bahwa di era kolaborasi, pemimpin yang “kurang piknik” akan membawa organisasi menjadi katak dalam tempurung. Ia harus memiliki akses ke MW KAHMI Kaltim, MN KAHMI di Jakarta, jejaring lintas ormas (NU, Muhammadiyah, dan lain-lain), dan tentunya paling penting: jejaring pemerintahan pusat dan daerah.
Komitmen pada Perkaderan. Ini yang sering terlupakan, KAHMI adalah hulu dari hilir yang bernama HMI (bukan sebaliknya!). Jika KAHMI abai pada adik-adiknya di HMI Cabang Kutai Kartanegara, maka sesungguhnya KAHMI sedang memutus mata rantai regenerasinya sendiri. Pemimpin baru harus punya program konkret untuk meningkatkan kapasitas HMI, membantu penyelenggaraan Perkaderan HMI, dari LK 1, LK 2, bahkan LK 3, upgrading, mentoring, bahkan akses magang ke dunia kerja.
Peta Jalan (Roadmap) 2026-2030: Tawaran Program Strategis
Tanggal 16 Februari 2026 di Pendopo Odah Etam bukan akhir segalanya, melainkan awal dari segalanya. Kepada Kanda Dr. Sarkowi V Zahry dan jajaran pengurus periode 2021-2026, kami sampaikan Jazakumullah Khairan Katsiran. Segala dedikasi, waktu, dan pikiran yang telah dicurahkan akan tercatat dalam lembar sejarah organisasi dan Insya Allah menjadi amal jariyah. Kekurangan adalah sifat manusia, tugas pengurus selanjutnya adalah menyempurnakannya.
Sebagai sumbangsih pemikiran, berikut adalah tawaran peta jalan bagi kepengurusan yang akan terbentuk:
Konsolidasi Data Base (Big Data KAHMI). Kelemahan terbesar kita adalah data. Kita sering mengklaim punya ribuan alumni, tapi datanya berserakan. Presidium baru harus memprioritaskan sensus anggota digital. Kita perlu tahu: Berapa yang S2/S3? Berapa yang pengusaha? Berapa yang di birokrasi? Dengan data ini, distribusi kader tidak lagi berdasarkan like and dislike, tapi berdasarkan meritokrasi dan kompetensi.
Graha KAHMI. Pengurus MD KAHMI Kukar harus menargetkan adanya ruang beraktivitas bersama yang bernama “Graha Insan Cita: Ruang Kolektif KAHMI untuk Satu Aksi”. Sangat mustahil kita mengumpulkan gagasan dan ide gerakan kolektif jika rumahnya belum ada.
KAHMI Kukar Institute. Sekolah Pemikiran yang akan mengembalikan tradisi intelektual. Mengingat banyaknya akademisi di Kukar (termasuk di Unikarta), KAHMI harus rutin menyelenggarakan kajian strategis bulanan yang hasilnya dibukukan dan diserahkan ke Pemda/DPRD sebagai rekomendasi kebijakan.
Lumbung bisnis KAHMI, apapun namanya KAHMI harus memiliki kemandirian organisasi yang ditopang oleh kemandirian finansial. KAHMI Kukar perlu mendirikan badan usaha milik organisasi yang dikelola profesional. Sektor pangan, pendidikan, atau jasa konsultan bisa menjadi opsi. Jangan lagi setiap ada acara harus mengajukan proposal bantuan sosial yang merendahkan marwah organisasi.
Sinergi dengan Ulama-Umara. KAHMI harus menjadi jembatan antara aspirasi umat Islam dengan pemerintah daerah. Program-program keumatan, seperti pengembangan pendidikan Islam, pemberdayaan masjid, dan ekonomi syariah harus dikawal. Nilai-nilai Islam harus menjadi nafas dalam setiap kebijakan pembangunan di Kukar.
Kepada seluruh kader KAHMI Kukar, mari kita jadikan Musda ini sebagai momentum rekonsiliasi dan revitalisasi. Singkirkan ego sektoral, buang jauh-jauh sentimen individu. Kita dipersatukan oleh dua hal: Kanda Lafran Pane (Pendiri HMI) dan Tujuan HMI itu sendiri, yakni: “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam, dan Bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat Adil Makmur yang diridhoi Allah SWT.”
KAHMI Kukar ke depan harus menjadi rumah yang nyaman bagi setiap alumni untuk pulang, berdiskusi, dan merancang masa depan. Kapal besar ini membutuhkan nakhoda yang tangguh untuk membelah ombak zaman. Mari kita pilih calon yang terbaik dan bervisi jelas, bukan yang hanya pandai melempar janji.
Selamat bermusyawarah. Mari kita teroka arah baru organisasi ini dengan ‘Bismillah’ dan niat yang lurus. Yakin Usaha Sampai!.(*)
