SAJAK.ID – Desa Wisata Pela di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar), sudah membuktikan eksistensinya sebagai pelopor wisata berbasis konservasi di Indonesia. Desa ini menorehkan sejumlah prestasi bergengsi sepanjang 2023–2024 lalu, mulai dari tingkat nasional hingga internasional.
Salah satu pencapaian mereka adalah penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kategori Penyelamat Lingkungan berkat keberhasilan mereka dalam konservasi Pesut Mahakam, mamalia air tawar langka dan endemik Kalimantan.
Tidak hanya itu, Desa Pela juga menyabet Juara 1 ajang Wonderful Indonesia Impact dari Kementerian Pariwisata dan menjadi satu-satunya perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim) dari lebih 3.000 peserta.
Di kancah internasional, Desa Pela masuk dalam daftar tiga desa di Indonesia yang terpilih mengikuti program United Nations World Tourism Organization (UNWTO), bersanding dengan Desa Taro dan Bilebante. Keikutsertaan ini menjadikan Pela sebagai kandidat kuat destinasi wisata global berkelanjutan.
Ketua Pokdarwis Bekayuh Beumbai Bebudaya (B3) Desa Pela, Alimin, mengungkapkan bahwa semua prestasi ini tidak lepas dari dukungan Dinas Pariwisata Kukar.
“Kita ingin menjadi percontohan nasional dan dunia dalam mengelola wisata berbasis pelestarian,” ucapnya.
Di tingkat lokal, Desa Pela sebelumnya juga menorehkan Juara 3 Nasional untuk kategori Kelembagaan Desa Wisata serta masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Alimin menegaskan, keberhasilan Pela adalah hasil konsistensi dalam konservasi sejak 2018, termasuk penerbitan Peraturan Desa tentang pelarangan alat tangkap ikan yang merusak lingkungan.
Karena tekad yang kuat, Desa Pela kini menjadi simbol sinergi antara pelestarian dan pemberdayaan ekonomi lokal melalui wisata berkelanjutan. (Adv)
