SAJAK.ID – Kepala SMPN 7 Muara Kaman, Rasian, menyatakan rasa bangga dan terharu atas penobatan sekolahnya sebagai Sekolah Rujukan Google pertama di Indonesia.
Sebuah pencapaian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, terutama bagi sekolah yang berada di wilayah pedalaman dengan berbagai tantangan unik.
Rasian menceritakan bahwa ide awal hanya untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, di mana mereka bisa belajar sambil bermain.
“Awalnya itu kita hanya mencari mainan anak-anak supaya dia itu belajar tapi bermain, bermain tapi belajar,” ungkap Rasian.
Melalui diskusi dengan tim Kukar Pintar, munculah solusi untuk mencoba program sekolah rujukan Google. Awalnya, tantangan besar harus dihadapi, termasuk saat ujian sertifikasi Google Educator Level 1 di Balikpapan, di mana dari 10 guru, hanya Suwito yang berhasil lulus.
Namun, dengan kegigihan, akhirnya semua 10 guru SMPN 7 Muara Kaman berhasil lulus Level 1.
“Alhamdulillahnya di SMP Negeri 7 itu diikutkan oleh Disdikbud Kukar sebagai sekolah Google,” katanya.
Dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar menjadi faktor penentu. SMPN 7 Muara Kaman mendapatkan bantuan vital berupa listrik dengan kapasitas besar (sekitar 15.000 KWH) dan Starlink, sebuah fasilitas internet satelit yang sangat krusial bagi sekolah di pedalaman.
Menurut dia, bantuan ini memungkinkan sekolah untuk mensertifikasi seluruh guru hingga level 1, bahkan ada satu guru yang telah mencapai tingkat coach.
Dengan memiliki sumber daya manusia (SDM) yang tersertifikasi, SMPN 7 Muara Kaman dapat mengoptimalkan penggunaan Chromebook dan memenuhi semua persyaratan Google tanpa biaya tambahan yang besar.
“Selesai pelajaran kita ngumpul, kita duduk bersama, kita manfaatkan Chromebook hingga apa yang disyaratkan oleh Google untuk menjadi sekolah Google Alhamdulillah bisa terpenuhi,” jelas Rasian.
Pada 5 Juni 2025, pengumuman resmi datang, membuat Rasian dan seluruh tim merasa sangat terkejut dan terharu. “Tidak menyangka sampai sejauh itu pikiran kami ya, enggak nyampe lah apalagi kami sekolah di pedalaman, anak-anaknya saja tantangan kami di sana adalah orang tua itu cenderung anaknya itu membantu orang tua daripada menyekolahkan anaknya,” tutur Rasian.
Berkat digitalisasi pembelajaran yang didukung penuh oleh Disdikbud Kukar, SMPN 7 Muara Kaman mengalami dampak positif yang luar biasa. Dari jumlah siswa yang sebelumnya kurang dari 50, kini pada tahun ajaran baru, sekolah tersebut akan memiliki sekitar 150 siswa.
“Ini menunjukkan bahwa inovasi dan komitmen terhadap pendidikan digital mampu mengubah stigma dan menarik minat belajar di daerah terpencil,” pungkasnya. (Adv)
