SAJAK.ID – Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), H. Sunggono, mendorong para pegiat daur ulang sampah agar tidak hanya fokus pada kerajinan limbah, tetapi juga memanfaatkan peluang ekonomi lain, termasuk budidaya ulat maggot BSF (Hermetia illucens).
Ia menyebut maggot berpotensi menjadi bahan baku pakan ayam untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemenuhan telur di sekolah mulai tahun depan.
Sunggono menjelaskan bahwa Pemkab Kukar akan membangun kandang ayam petelur di 17 kecamatan. Kebutuhan pakan berbahan protein tinggi membuka kesempatan besar bagi pegiat sampah untuk masuk dalam rantai produksi melalui pengolahan limbah organik menjadi maggot.
“Budidaya maggot mudah, tidak butuh lahan luas, dan pasti dibutuhkan karena menjadi pakan ayam. Ini peluang ekonomi yang besar,” ujarnya.
Selain peluang tersebut, Sunggono menekankan pentingnya penerapan pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai kunci pengelolaan sampah berkelanjutan.
Ia menyebut 3R bukan hanya slogan, tetapi panduan praktis untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menghemat sumber daya alam.
“Kita harus bersama-sama membangun kesadaran bahwa sampah bisa bernilai. Gerakan pegiat daur ulang harus menjadi gerakan seluruh masyarakat,” tambahnya.
Menurutnya, gerakan pegiat daur ulang mampu menjadi motor penggerak kesadaran lingkungan di Kukar. Banyak sekolah, guru, dan murid di 20 kecamatan juga menantikan hasil karya daur ulang yang dapat digunakan dan berkompetisi dengan produk pabrik.
Sunggono memastikan pemerintah akan terus memberikan ruang dan dukungan agar gerakan ini berkembang, baik sebagai inovasi lingkungan maupun sebagai peluang ekonomi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Kabupaten Kukar membutuhkan lebih banyak terobosan seperti ini untuk memperkuat ketahanan lingkungan dan kemandirian ekonomi desa.
“Selama masih ada limbah di sekitar kita, selalu ada peluang untuk menciptakan manfaat. Ini waktunya mengubah sampah menjadi nilai,” pungkasnya.(Adv)
