SAJAK.ID – Istilah “FOMO” (Fear of Missing Out) dan “JOMO” (Joy of Missing Out) kini menjadi cerminan pola hidup masyarakat di era digital.
Keduanya menggambarkan bagaimana seseorang merespons derasnya arus informasi dan aktivitas sosial yang terus bergerak tanpa henti.
“FOMO” merujuk pada perasaan takut tertinggal—baik dari tren, pengalaman, maupun pergaulan. Seseorang dengan FOMO tinggi cenderung ingin selalu terlibat, mengikuti apa yang sedang viral, hingga merasa cemas jika tidak ikut dalam suatu momen.
Media sosial menjadi pemicu utama, karena setiap unggahan orang lain dapat menciptakan ilusi bahwa “semua orang sedang melakukan sesuatu yang lebih menarik.”
Sebaliknya, “JOMO” hadir sebagai respons yang lebih tenang. Istilah ini menggambarkan kebahagiaan karena memilih untuk tidak ikut dalam hiruk-pikuk tersebut.
Orang dengan prinsip JOMO justru menikmati waktu sendiri, fokus pada hal yang dianggap penting, dan tidak merasa perlu mengikuti semua tren yang ada.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran cara pandang generasi muda terhadap kehidupan sosial. Jika FOMO mendorong keterlibatan tanpa henti, JOMO justru menekankan keseimbangan dan kesadaran diri.
Keduanya sering kali hadir dalam diri yang sama—berubah tergantung situasi dan kondisi.
Meski FOMO dapat memicu kelelahan mental akibat tekanan sosial, JOMO dianggap lebih sehat karena memberi ruang untuk refleksi dan ketenangan.
Namun, dalam praktiknya, menemukan titik seimbang antara keduanya menjadi kunci agar tetap terhubung tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.
Di tengah dunia yang serba cepat, FOMO dan JOMO bukan sekadar istilah, melainkan gambaran nyata tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan realitas digital—antara keinginan untuk selalu hadir dan kebutuhan untuk sesekali menjauh. (*)
