SAJAK.ID – Di tengah kehidupan modern yang semakin dipengaruhi media sosial dan budaya pencarian pengakuan, sebuah pepatah Arab kuno kembali menemukan relevansinya.
Ungkapan “تُنسَى كَأَنَّكَ لَمْ تَكُن” (tunsā ka annaka lam takun), yang berarti “engkau akan dilupakan seakan-akan tidak pernah ada”, menjadi pengingat bahwa ketenaran, jabatan, dan popularitas bukanlah sesuatu yang abadi.
Filosofi ini mengajak manusia menyadari bahwa waktu akan terus berjalan tanpa memandang siapa seseorang.
Mereka yang hari ini menjadi pusat perhatian publik, pemimpin berpengaruh, atau tokoh terkenal, pada akhirnya akan digantikan oleh generasi berikutnya.
Dunia tidak berhenti untuk satu individu, betapapun besar pengaruh yang pernah dimilikinya.
Di era digital, ketika jumlah pengikut, tanda suka, dan berbagai bentuk validasi sosial sering dijadikan ukuran kesuksesan, pepatah tersebut menawarkan sudut pandang yang berbeda.
Alih-alih mengejar pengakuan yang bersifat sementara, manusia diajak untuk lebih fokus pada makna dan kontribusi yang ditinggalkan selama hidup.
Fenomena ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang menghabiskan waktu untuk membangun citra diri di ruang publik, sementara nilai-nilai seperti integritas, kepedulian sosial, dan karya yang bermanfaat sering kali terabaikan.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perhatian publik dapat berubah dengan sangat cepat seiring bergantinya tren dan zaman.
Meski terdengar sederhana, pesan dalam tunsā ka annaka lam takun bukanlah ajakan untuk bersikap pesimistis. Sebaliknya, ungkapan tersebut mengandung pelajaran tentang kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Kesadaran bahwa suatu hari nama seseorang mungkin terlupakan justru dapat mendorongnya untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Dalam konteks kehidupan modern, filosofi ini mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak semata ditentukan oleh seberapa banyak ia dikenal, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang diberikan kepada lingkungan sekitarnya.
Sebab pada akhirnya, yang bertahan bukan selalu popularitas, melainkan jejak kebaikan dan kontribusi yang ditinggalkan.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh persaingan dan pencitraan, tunsā ka annaka lam takun hadir sebagai pengingat sederhana: hidup bukan tentang dikenang selamanya, tetapi tentang menjadikan waktu yang singkat ini berarti bagi sesama. (*)
