SAJAK.ID – Ungkapan Latin de gustibus non est disputandum berarti “soal selera tidak perlu diperdebatkan”. Frasa yang telah dikenal sejak zaman Romawi ini mengandung pesan sederhana namun mendalam: setiap orang memiliki preferensi, kesukaan, dan penilaian yang berbeda-beda, sehingga tidak semua perbedaan harus berujung pada perdebatan.
Dalam pergaulan modern, prinsip ini semakin relevan. Kehadiran media sosial membuat setiap orang memiliki ruang untuk mengekspresikan pendapatnya, mulai dari pilihan musik, film, makanan, gaya berpakaian, hingga pandangan terhadap suatu karya seni.
Namun, kebebasan berekspresi tersebut sering kali diiringi kecenderungan untuk menganggap selera pribadi sebagai standar yang harus diikuti orang lain.
Akibatnya, perbedaan yang seharusnya menjadi warna dalam kehidupan sosial justru berubah menjadi sumber konflik.
Tidak jarang seseorang dianggap kurang berkelas karena menyukai jenis musik tertentu, dicap tidak memiliki selera karena pilihan filmnya, atau bahkan dikucilkan karena preferensi gaya hidup yang berbeda.
Di sinilah makna de gustibus non est disputandum menjadi penting. Ungkapan tersebut mengajarkan bahwa tidak semua perbedaan memerlukan penilaian benar atau salah.
Seseorang boleh menyukai musik klasik, sementara yang lain lebih menikmati musik populer. Ada yang mengagumi karya sastra berat, ada pula yang lebih memilih novel ringan.
Perbedaan itu tidak selalu menunjukkan kualitas seseorang, melainkan mencerminkan pengalaman, latar belakang, dan kepribadian yang berbeda.
Dalam konteks pergaulan, sikap menghargai perbedaan selera dapat menciptakan hubungan yang lebih sehat. Orang tidak lagi merasa harus memenangkan setiap perdebatan atau memaksakan preferensinya kepada orang lain.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi sarana untuk saling mengenal dan memperluas wawasan.
Meski demikian, prinsip ini tidak berarti semua hal tidak boleh diperdebatkan. Selera berbeda dengan fakta, etika, atau hukum.
Preferensi pribadi mengenai makanan atau musik mungkin tidak perlu diperdebatkan, tetapi isu yang berkaitan dengan kebenaran informasi, keadilan, atau kepentingan publik tetap memerlukan diskusi kritis.
Pada akhirnya, de gustibus non est disputandum mengingatkan bahwa kedewasaan dalam pergaulan bukan ditunjukkan oleh kemampuan memaksakan selera kepada orang lain, melainkan oleh kemampuan menghormati keberagaman pilihan yang ada.
Di tengah masyarakat yang semakin beragam dan terhubung, sikap tersebut menjadi salah satu kunci terciptanya hubungan sosial yang harmonis dan saling menghargai. (*)
