SAJAK.ID — Di balik perjalanan panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, tersimpan kisah tentang seorang jawara yang bukan hanya dikenal karena kecakapan bela diri, tetapi juga karena akhlak, keberanian, dan pengabdiannya kepada Kesultanan.
Namanya Muhammad Ibrahim Katung. Ia lahir pada 1878 dan kelak lebih dikenal sebagai Muhammad Katung, seorang Jawara Timbau—nama sebuah daerah di Tenggarong—yang mendapat gelar Panglima Djaya dari Yang Mulia Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-20 yang bertahta circa 1920–1960.
Sejak kecil, Nek Ki, begitu beliau biasa dipanggil, telah hidup di lingkungan Keraton Kutai Kartanegara. Ia mengikuti ayahandanya, Hasanuddin, seorang pandai besi asal Negara, Kalimantan Selatan, yang bekerja di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pada masa itu, Keraton Kayu Kesultanan berada di lokasi yang kini menjadi area Kantor Itwilda Kukar dan Planetarium Tenggarong.
Namun, kehidupan Muhammad Katung tidak hanya diisi dengan bela diri dan kehidupan di lingkungan keraton. Saat remaja, ia juga aktif mempelajari agama Islam dan membaca kitab kuning di perpustakaan Kesultanan bersama Al Habib Muhammad bin Toha bin Yahya, yang bergelar Pangeran Noto Igomo.
Dari lingkungan itulah sosok Muhammad Katung tumbuh. Ia dikenal memiliki kemampuan bela diri, tetapi juga kesantunan akhlak yang membuatnya dipercaya oleh Sultan.
Gelar Panglima Djaya
Di usia yang masih cukup muda, sekitar tahun 1930-an, Sultan Parikesit memberikan gelar Panglima Djaya kepada Muhammad Katung.
Gelar itu bukan diberikan tanpa alasan.
Ia dikenal memiliki kecakapan ilmu bela diri sekaligus kesantunan akhlak. Kemampuan tersebut kemudian diuji ketika ia diutus untuk mendamaikan perseteruan antara etnis Timor yang berjumlah sekitar 300 orang dan etnis Bugis sebanyak 400 orang di area pertambangan OBM (Oost Borneo Maatschappij) di Loa Kulu.
Tugas itu berhasil dijalankan.
Muhammad Katung kemudian mengikuti jejak paman-pamannya yang terlebih dahulu mendapat gelar Panglima dari Sultan Parikesit, yakni Datok Madjid atau Panglima Madjid dan Datok Kahar atau Panglima Kahar.
Pengabdian Muhammad Katung kepada Kesultanan terus berlanjut.
Ia diangkat menjadi Kepala Kampong Timbau dan Rempanga. Atas bakti dirinya bersama keluarga kepada Kesultanan Kutai, Sultan Parikesit juga menghadiahkan area Timbau kepadanya.
Dari situlah kemudian keluarga besar Muhammad Katung di Tenggarong dikenal dengan sebutan “Bubuhan Timbau”.
Wilayah yang dimaksud meliputi Timbau, Pal 4, area Pom Bensin Tenggarong, Gedung STIE Ketopong, kawasan Perumahan Arwana, Jembatan Mahakam saat ini, hingga Kantor KPU Kutai Kartanegara.
Setelah itu, Muhammad Katung kembali mendapat amanah. Ia diangkat menjadi Kepala Kampong Anak Raja-Raja, yang wilayahnya meliputi Kelurahan Melayu, Kelurahan Panji Tenggarong, dan Kampong Sukarame.
Namun, perjalanan pengabdiannya belum berhenti.
Menjaga Loa Kulu
Sultan Parikesit kemudian memberikan mandat baru kepada Panglima Djaya untuk menjadi Kepala Kampong Loa Kulu.
Kala itu, Loa Kulu merupakan salah satu sentral industri dan pertambangan di Kalimantan Timur. Penduduknya padat dan berasal dari berbagai suku bangsa.
Kondisi tersebut membuat potensi keributan bahkan perang antarsuku kerap muncul.
Di tengah situasi itulah Panglima Djaya harus turun tangan langsung untuk menjaga perdamaian.
Loa Kulu juga memiliki posisi penting bagi Kesultanan. Wilayah tersebut menjadi pusat kelistrikan Kesultanan yang mengalirkan listrik ke Tenggarong, Loa Kulu hingga Samarinda.
Dalam menjalankan pemerintahan kampong, Panglima Djaya didampingi sejumlah pejabat kampong, yakni Wakil Kampong Jembayan Petinggi Jabir, Wakil Kampong Berhala Busu Bahrul, Kampong Lok Sumber Raden Ismanun, Kampong Ponoragan MargoSumarto, serta Kampong Rempanga Petinggi Usman.
Saat pertama kali harus bermukim di Loa Kulu, Panglima Djaya diantar langsung oleh Habib Muhammad bin Yahya atau Pangeran Noto Igomo.
Bukan hanya mengantarnya, Pangeran Noto Igomo juga memilihkan rumah tempat tinggal Panglima Djaya.

Jika diukur dari panjang wilayah Loa Kulu, dari hulu hingga hilir, rumah peninggalan Panglima Djaya tersebut berada tepat di tengah-tengah Loa Kulu.
Ada satu pesan Pangeran Noto Igomo yang hingga kini dikenang:
“Tung… Disini awak bediam, insya Allah selamat dunia akherat awak sekeluarga ngan anak keturunan awak.”
Menampar Kapten Belanda
Semasa hidupnya, banyak kisah heroik yang diceritakan langsung oleh Panglima Djaya maupun kerabat keluarganya.
Salah satunya adalah kisah ketika ia menampar seorang Kapten Belanda.
Peristiwa itu terjadi ketika Kesultanan Kutai menggelar upacara untuk menyambut kunjungan Ratu Wilhelmina dari Belanda.
Para tamu penting telah hadir dan berbaris rapi di hadapan Keraton Kesultanan, yang kini dikenal sebagai Museum Mulawarman.
Tiba-tiba seorang kerabat bangsawan Kesultanan datang terlambat.
Ia langsung dicegat oleh seorang Kapten Belanda. Di hadapan seluruh peserta upacara dan para undangan, kerabat bangsawan tersebut ditampar oleh sang kapten.
Sultan Parikesit melihat kejadian tersebut.
Kemudian Sultan memberikan tanda dengan menganggukkan kepala kepada Panglima Djaya.
Panglima Djaya mendekat.
Dengan suara pelan, Sultan berbisik:
“Tung… PUTIK BALIK.”
Panglima Djaya menjawab:
“PATIK PUN.”
Ia kemudian turun menuruni anak tangga keraton dan berjalan menuju tengah lapangan.
Kapten Belanda tadi dihampirinya.
Tanpa banyak bicara, Panglima Djaya langsung membalas tamparan tersebut sebanyak dua kali.
“Putik balik” merupakan perintah Sultan yang berarti membalas sesuai dengan apa yang telah diperbuat.
Dalam konteks sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa itu, posisi dan marwah Kesultanan disebut sejajar dengan Belanda. Kesultanan bukan berada di bawah Belanda sebagai jajahan, melainkan menjadi rekanan bisnis dalam konsesi pertambangan dan minyak bumi Kesultanan dan Belanda, yang bermula sejak masa Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman circa 1888.
Saat Jepang Mengepung Keraton
Kisah lain terjadi ketika tentara Jepang mengepung Keraton Kesultanan.
Tujuannya menangkap Sultan Parikesit beserta keluarganya.
Panglima Djaya bersama para pamannya berjaga mengelilingi area keraton. Mendau melingkar di pinggang mereka.
Ketika pasukan Jepang datang, Panglima Djaya membuka bajunya.
Di dadanya terlihat bendera dari Kaisar Jepang yang diikatkan di tubuhnya.
Melihat bendera tersebut, pasukan Jepang akhirnya bubar.
Bendera itu bukan sembarang bendera.
Bendera tersebut merupakan hadiah dari Kaisar Jepang ketika tentara Jepang pertama kali masuk ke Kutai Kartanegara.
Saat itu, ketika hendak memasuki wilayah Jembayan, kendaraan perang tentara Jepang tidak dapat melintas.
Panglima Djaya kemudian menghimpun masyarakat untuk membuat jembatan agar kendaraan perang Jepang dapat melewati wilayah tersebut.
Atas bantuan itu, ia mendapatkan bendera penghargaan dari Kaisar Jepang.
Bendera itulah yang kemudian digunakan Panglima Djaya dalam peristiwa ketika tentara Jepang mengepung Keraton.
Turut Berjuang di Masa Agresi Militer Belanda
Pada masa Agresi Militer Belanda II, Panglima Djaya kembali terlibat dalam perjuangan.
Di bawah komando Pangeran Tumenggung, ia turut berjuang bersama para pejuang di daerah Gunung Timur Loa Kulu.
Perannya bukan hanya berada di garis perjuangan.
Panglima Djaya juga menjadi pemasok peluru yang diselundupkan ketika mengirim beras dan makanan ke daerah Gunung Timur.
Peluru-peluru tersebut disembunyikan di dalam wadah makanan.
Dengan cara itu, bantuan logistik sekaligus amunisi dapat sampai kepada para pejuang.
Menghabiskan Masa Tua di Loa Kulu
Panglima Djaya menghabiskan sisa hidupnya di Loa Kulu.
Dari pernikahan pertama, ia memiliki dua orang anak:
Ahmad Jamal Katung
Saerah Yot Katung
Kemudian dari pernikahan kedua dengan Sarehat binti H. Abdul Muthalib, ia memiliki sebelas orang anak:
Muhammad Ardin Katung
Syahranie Effendi Katung
Daud Katung
Salmah Katung
Saonah Katung
Abdul Wahid Katung
Juhariyah Katung
Jalidah Katung
Ahmad Hasan Katung
Asiah Katung
Ahmad Halidin Katung.
Muhammad Katung berpulang pada usia 115 tahun, pada 1993, di Loa Kulu, tepatnya pada 27 Ramadan.
Kepergiannya menjadi peristiwa yang begitu besar bagi masyarakat.
Saat beliau disemayamkan, begitu banyak masyarakat datang untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengantarkan jenazahnya.
Di antara mereka terlihat Gubernur H.M. Ardan, Bupati Said Syafran, serta sejumlah petinggi Kalimantan Timur.
Saking banyaknya tamu yang hadir, keluarga bahkan harus mengumumkan agar para pelayat keluar dari rumah.
Rumah tua tempat jenazah disemayamkan mulai miring karena menanggung begitu banyak orang. Keluarga khawatir rumah tersebut roboh akibat padatnya masyarakat yang datang untuk melihat langsung jenazah Panglima Djaya.
Sosok yang Tak Pernah Sepi dari Tamu
Semasa hidupnya, memang begitu banyak cerita tentang Panglima Djaya yang membuat keluarga terharu ketika kembali mengingatnya.
Pada masa tuanya, hampir setiap hari rumah Panglima Djaya tidak pernah benar-benar sepi.
Orang-orang datang untuk bersilaturahmi. Sebagian bahkan datang untuk meminta dibacakan doa keberkahan oleh beliau.
Di antara mereka, ada sejumlah tokoh yang hampir tidak pernah absen singgah ketika melewati Loa Kulu.
Mereka antara lain Bupati Kutai saat itu, H. Said Syafran, mantan Gubernur Kalimantan Timur H. Haidir Hafiedz, Moeis Hasan, Abdul Wahab Syahranie, dan Pangeran Tumenggung.
Panglima Djaya telah lama berpulang.
Namun kisah hidupnya tetap tinggal dalam ingatan keluarga dan masyarakat.
Dari seorang anak yang tumbuh di lingkungan Keraton Kutai, belajar agama bersama Pangeran Noto Igomo, menjadi jawara Timbau, kemudian dipercaya Sultan Parikesit sebagai Panglima Djaya, hingga menjalankan tugas menjaga keamanan dan perdamaian di Loa Kulu.
Kisah Muhammad Katung pada akhirnya bukan hanya tentang seorang jawara yang mahir bela diri.
Ia adalah kisah tentang pengabdian, keberanian, kesetiaan kepada Kesultanan, dan bagaimana seorang manusia meninggalkan jejak yang begitu panjang di tengah masyarakat yang pernah hidup bersamanya.
Catatan: Kutipan ini diambil dan bersumber dari anak Mendiang Bapak Ahmad Halidin Katung, yakni Akhmad Akbar Haka (Cucu Panglima Djaya).
