SAJAK.ID – Pukul 08.00 pagi, seorang anak lahir di sebuah rumah sakit.
Pada saat yang sama, di kota lain, seorang lelaki mengembuskan napas terakhirnya.
Di tempat berbeda, sepasang kekasih mengucapkan janji pernikahan. Sementara ribuan kilometer dari sana, seorang astronaut memandang Bumi dari balik jendela pesawat antariksa.
Bagi kita, semua peristiwa itu terjadi “sekarang”.
Namun, apakah benar ada sesuatu yang benar-benar disebut sekarang?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi lebih dari satu abad lalu, ia membawa Albert Einstein pada sebuah gagasan yang hingga kini masih menjadi salah satu konsep paling membingungkan dalam fisika modern.
Konsep itu dikenal sebagai Block Universe.
Sebuah gagasan yang menyatakan bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan mungkin sama-sama ada.
Sejak kecil, manusia diajarkan bahwa waktu mengalir seperti sungai.
Kemarin telah berlalu.
Hari ini sedang kita jalani.
Besok belum terjadi.
Kita membayangkan waktu sebagai garis lurus yang terus bergerak ke depan.
Jam berdetak.
Kalender berganti.
Rambut memutih.
Anak-anak tumbuh dewasa.
Semuanya memberi kesan bahwa waktu memang sedang mengalir.
Tetapi menurut teori relativitas Einstein, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Dalam alam semesta, tidak ada “jam universal” yang berdetak sama bagi semua orang.
Waktu bergantung pada kecepatan dan gravitasi.
Semakin cepat seseorang bergerak, semakin lambat waktu berlalu baginya dibandingkan orang lain.
Astronaut yang bepergian dengan kecepatan sangat tinggi akan mengalami waktu yang sedikit berbeda dibandingkan manusia di Bumi.
Fenomena ini bukan sekadar teori.
Ia telah dibuktikan melalui berbagai eksperimen dan bahkan harus diperhitungkan dalam sistem navigasi satelit seperti GPS.
Jika waktu ternyata relatif, maka muncul pertanyaan berikutnya.
Apakah “masa kini” benar-benar ada?
Di sinilah gagasan Block Universe mulai memasuki panggung.
Bayangkan sebuah buku.
Seluruh halaman buku itu sudah tercetak.
Halaman pertama adalah masa lalu.
Halaman tengah adalah saat yang sedang Anda baca.
Halaman terakhir adalah masa depan.
Ketika membaca novel, kita merasa cerita bergerak dari awal menuju akhir.
Padahal seluruh cerita sebenarnya sudah ada sejak buku itu selesai dicetak.
Menurut Block Universe, alam semesta mungkin bekerja dengan cara yang mirip.
Semua peristiwa—kelahiran, pertemuan, kegagalan, keberhasilan, bahkan kematian—mungkin telah menjadi bagian dari struktur ruang-waktu.
Yang berubah hanyalah posisi kesadaran kita yang “membaca” satu bagian demi satu bagian.
Jika gagasan ini benar, waktu tidak mengalir.
Kitalah yang bergerak melintasi waktu.
Konsep tersebut terdengar begitu asing karena bertentangan dengan pengalaman sehari-hari.
Kita merasa sedang membuat pilihan.
Memutuskan sekolah.
Memilih pekerjaan.
Menentukan pasangan hidup.
Jika masa depan sudah ada, apakah semua keputusan itu hanyalah ilusi?
Apakah manusia benar-benar memiliki kebebasan memilih?
Inilah salah satu perdebatan terbesar yang lahir dari Block Universe.
Sebagian filsuf berpendapat bahwa masa depan yang telah “ada” tidak berarti manusia kehilangan kehendak bebas.
Sebagian lainnya menganggap seluruh perjalanan hidup memang telah menjadi bagian dari struktur alam semesta.
Perdebatan itu belum pernah benar-benar selesai.
Yang menarik, Block Universe juga mengubah cara kita memandang kematian.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menganggap seseorang yang meninggal telah “hilang”.
Namun dalam konsep Block Universe, seluruh perjalanan hidup orang tersebut tetap menjadi bagian dari ruang-waktu.
Momen ketika ia tertawa sebagai anak kecil.
Hari pertama bekerja.
Saat menikah.
Ketika memeluk anaknya.
Semua peristiwa itu tidak benar-benar lenyap.
Mereka tetap “ada” sebagai bagian dari struktur alam semesta.
Banyak fisikawan menekankan bahwa ini bukanlah bukti kehidupan setelah kematian.
Melainkan cara berbeda memahami keberadaan waktu.
Namun bagi sebagian orang, gagasan tersebut menghadirkan penghiburan filosofis.
Bahwa setiap momen indah dalam hidup mungkin tidak pernah benar-benar hilang.
Meski demikian, Block Universe masih merupakan interpretasi filosofis terhadap teori relativitas.
Ia bukan fakta yang telah dibuktikan secara mutlak.
Ada banyak fisikawan yang mendukungnya.
Ada pula yang menawarkan penjelasan berbeda tentang hakikat waktu.
Justru di situlah letak keindahan sains.
Ia tidak memaksa manusia menerima satu jawaban.
Ia mengajak manusia terus bertanya.
Barangkali, yang paling menarik dari Block Universe bukanlah pertanyaan tentang masa depan.
Melainkan pertanyaan tentang diri kita sendiri.
Mengapa kita hanya dapat mengingat masa lalu, tetapi tidak masa depan?
Mengapa kesadaran terasa bergerak dari satu detik ke detik berikutnya?
Mengapa kita merasakan waktu berlalu, jika mungkin waktu sebenarnya tidak bergerak?
Sampai hari ini, tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.
Namun setiap pertanyaan itu membawa manusia semakin dekat pada pemahaman tentang alam semesta.
Pada akhirnya, Block Universe mengingatkan bahwa realitas mungkin jauh lebih aneh daripada yang dapat ditangkap oleh indra.
Selama ini kita menganggap waktu seperti jalan raya yang terus membawa kita menuju masa depan.
Tetapi bagaimana jika waktu lebih menyerupai sebuah peta raksasa, di mana seluruh perjalanan telah tergambar, dan kita hanya sedang melangkah dari satu titik ke titik berikutnya?
Mungkin benar.
Mungkin juga tidak.
Namun satu hal yang pasti, setiap kali ilmu pengetahuan berhasil membuka satu misteri, ia justru memperlihatkan puluhan misteri baru yang menunggu untuk dipahami.
Dan bisa jadi, misteri terbesar di alam semesta bukanlah lubang hitam, galaksi, atau kehidupan di planet lain.
Melainkan sesuatu yang setiap hari kita rasakan, tetapi belum sepenuhnya kita mengerti.
Yaitu… waktu itu sendiri. (*)
