SAJAK.ID – Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Korps HMI-Wati (KOHATI) PB HMI yang dijadwalkan berlangsung di Lampung pada akhir November 2026, dinamika kepemimpinan mulai menghangat.
Sejumlah nama dari berbagai cabang dan Badko HMI mulai diperbincangkan, salah satunya Ellisa Wulan Oktavia dari HMI Cabang Kutai Kartanegara (Kukar).
Ellisa kini membuka ruang komunikasi dengan berbagai unsur kader dan alumni HMI sebagai bagian dari proses menuju Munas KOHATI PB HMI.
Ia membawa gagasan elaborasi yakni penguatan kaderisasi, modernisasi tata kelola organisasi hingga perluasan peran KOHATI agar semakin berdampak bagi masyarakat.
“Bagi saya, KOHATI harus menjadi ruang bagi lahirnya muslimah terpelajar yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga mampu menerjemahkan gagasan menjadi gerakan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” kata Ellisa.
Perjalanan Ellisa di HMI dimulai dari LK I Komisariat Fisipol Universitas Kutai Kartanegara pada 2018. Ia kemudian mengikuti LK II HMI Cabang Makassar pada 2020 dan LK III HMI Badko Jawa Barat pada 2024.
Ia juga mengikuti Latihan Khusus KOHATI (LKK) HMI Cabang Balikpapan pada 2019, Sekolah NDP HMI Cabang Samarinda pada 2021 serta Senior Course (SC) HMI Cabang Kukar pada tahun yang sama.
Pengalaman organisasinya berkembang dari tingkat komisariat hingga struktur KOHATI PB HMI. Ellisa pernah dipercaya sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Fisipol, Wasekum PAO HMI Cabang Kukar, Bendahara Umum HMI Cabang Kukar hingga Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Kukar.
Di tingkat nasional, ia kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Wabendum PSDO KOHATI PB HMI dan Wasekum PSDO KOHATI PB HMI.
“Pengalaman berproses dari komisariat, cabang hingga di tingkat nasional membuat saya melihat bahwa KOHATI memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Yang perlu kita kuatkan adalah kaderisasi, kepemimpinan dan tata kelola organisasi agar mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Ellisa.
Dari sisi akademik, Ellisa merupakan lulusan Universitas Kutai Kartanegara pada 2022 dengan IPK 3,66. Pendidikan magisternya ditempuh di Universitas Mulawarman pada 2023–2025 dan berhasil meraih IPK 4,00.
Dalam proses menuju Munas, Ellisa menawarkan visi menjadikan KOHATI sebagai pusat gerakan muslimah terpelajar yang intelektual, inovatif dan berdampak melalui elaborasi gagasan serta aktualisasi perubahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Visi tersebut diterjemahkan melalui tiga agenda utama. Pertama, memperkuat fondasi kaderisasi dan intelektualitas KOHATI berdasarkan Tauhid, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI serta tradisi keilmuan Islam.
Kedua, membangun tata kelola organisasi yang modern, adaptif dan kolaboratif melalui transformasi digital, penguatan kepemimpinan kader serta inovasi organisasi. Ketiga, memperkuat peran KOHATI sebagai gerakan perempuan melalui advokasi, pemberdayaan, kolaborasi strategis dan penguatan kemandirian organisasi.
“Kita ingin KOHATI hadir sebagai organisasi yang mampu membaca perubahan tanpa kehilangan akar nilai. Modern dalam tata kelola, kuat dalam kaderisasi, terbuka dalam kolaborasi, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai perjuangan HMI dan nilai Islam,” tutur Ellisa.
Saat ini, Ellisa terus membuka komunikasi dengan alumni, kader, cabang dan Badko HMI di berbagai wilayah Indonesia. Komunikasi tersebut menjadi bagian dari dinamika menuju Munas KOHATI PB HMI yang akan menentukan arah kepemimpinan dan gerak organisasi ke depan.
Munas KOHATI PB HMI di Lampung pada akhir November 2026 nantinya menjadi forum nasional bagi kader KOHATI untuk menentukan kepemimpinan serta arah organisasi periode berikutnya.
Dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mendorong keterlibatan perempuan muda dalam ruang kepemimpinan dan organisasi.
Dalam konteks pencalonan Kohati, perhatian serta dukungan dari pemerintah daerah, termasuk Bupati, tentu Ellisa harapkan dapat menjadi bentuk apresiasi terhadap kader perempuan yang sedang mengambil bagian dalam proses kepemimpinan organisasi.
“Tentunya saya berharap juga ada dukungan dari para senior termasuk pemerintah kabupaten,” pungkasnya. (*)
