SAJAK.ID – Kandidat Direktur Utama Bankaltimtara, Amri Mauraga, secara tegas membantah isu yang menyebut dirinya memiliki hubungan keluarga maupun afiliasi dengan Gubernur Kalimantan Timur, Rudi Masud.
Ia menegaskan pencalonannya murni melalui jalur independen, berlandaskan rekam jejak profesional dan pengalaman panjang di industri perbankan.
Amri yang lahir di Ujung Pandang (Makassar) pada 5 April 1974 itu menyatakan, tudingan yang mengaitkannya dengan praktik nepotisme tidak berdasar.
“Saya maju karena kapasitas dan pengalaman, bukan karena afiliasi politik atau hubungan keluarga,” tegasnya.
Pemilihan Direktur Utama Bankaltimtara kini memasuki tahap final. Amri Mauraga bersaing dengan Romy Wijayanto, setelah keduanya dinyatakan lulus uji kelayakan dan kepatutan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pergantian posisi pucuk pimpinan ini dijadwalkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 23 April 2026, menggantikan Muhammad Yamin yang dievaluasi dari sisi kinerja.
Di balik polemik yang berkembang, Amri membawa rekam jejak lebih dari 26 tahun di sektor perbankan dan keuangan.
Ia dikenal sebagai profesional senior dengan keahlian kuat di bidang Governance, Risk Management, Compliance (GRC), Asset Liability Management (ALM), serta Strategic Management dan Human Resources Development (HRD).
Kemampuannya juga mencakup analisis skenario, stress test, hingga pengembangan kebijakan dan strategi anti-fraud.
Kariernya sebagian besar ditempa di PT Bank Sulselbar sejak 1995. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama (2021–2022) dan Pelaksana Tugas Direktur Utama (2020–2021).
Sebelumnya, ia memegang berbagai posisi strategis, mulai dari Pemimpin Grup Perencanaan, Manajemen Risiko, hingga Sumber Daya Manusia. Pengalamannya juga diperkuat dengan peran di Pemerintah Kota Makassar sebagai Staf Ahli Monitoring dan Evaluasi Rencana Bisnis BUMD (2023–2024) serta Tim Penasehat Investasi (2024).
Pada 2025, ia juga menjadi Dosen Praktisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
Dari sisi pendidikan, Amri meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Hasanuddin pada 2004 dan Sarjana Ekonomi dari STIEM Bongaya pada 2001.
Ia juga mengantongi sejumlah sertifikasi penting, termasuk Sertifikasi Manajemen Risiko Level-7 (BSMR) tahun 2024, sertifikasi kepatuhan perbankan, serta asesor kompetensi.
Kompetensinya diperkuat melalui berbagai pelatihan profesional, seperti Sekolah Staf dan Pimpinan Bank (Sespibank) LPPI, pelatihan manajemen risiko operasional, anti-fraud, hingga governance teknologi informasi.
Amri juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai forum diskusi terkait manajemen risiko, ICAAP, dan ILAAP sepanjang 2024.
Sejumlah penghargaan turut mengiringi perjalanan kariernya, di antaranya penghargaan masa kerja 15 dan 25 tahun, predikat Pemimpin Grup Kinerja Terbaik (2016), serta peraih nilai tertinggi dalam program Sespibank LPPI angkatan 55 tahun 2011.
Selain itu, Amri juga dipercaya dalam berbagai penugasan strategis, seperti Ketua Tim Pengembangan Organisasi Bank Sulselbar, anggota tim nominasi direktur pemasaran, hingga ketua tim penyempurnaan CKPN dan tata kelola treasury.
Dengan rekam jejak tersebut, Amri menegaskan bahwa pencalonannya sebagai Direktur Utama Bankaltimtara sepenuhnya didasarkan pada kompetensi dan pengalaman profesional.
“Harapan kita proses seleksi ini berjalan objektif dan memberikan ruang bagi figur yang benar-benar memiliki kapasitas dalam memimpin lembaga keuangan daerah,” harapnya. (*)
