SAJAK.ID – Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi di SMP Negeri 1 Tenggarong menuai sorotan. Seorang wali murid, Didi Tasidi, mempertanyakan transparansi sistem penilaian setelah putrinya, tidak lolos seleksi meski merupakan siswa berprestasi di sekolah asalnya.
Ia mengaku, putrinya lulusan SDN 006 Loa Lepu, Tenggarong Seberang, mendaftar melalui jalur prestasi dan berada di peringkat 125.
Didi menilai masih banyak hal yang belum dijelaskan kepada masyarakat, terutama terkait dasar penentuan nilai akumulasi peserta.
“Saya sebagai wali murid mempertanyakan transparansi nilai itu hasilnya dari mana,” kata Didi.
Ia juga mempertanyakan munculnya angka nilai sekitar 2.100 untuk peserta didik pertama yang lolos sebagai acuan pemeringkatan. Menurutnya, tidak ada penjelasan kepada publik mengenai dasar perhitungan nilai tersebut.
Didi menilai, jika seluruh siswa peringkat pertama dari sekolah dasar negeri di tiga kecamatan, yakni Tenggarong, Tenggarong Seberang, dan Loa Kulu, mendaftar ke SMPN 1 Tenggarong, seharusnya seluruhnya masih berpeluang diterima.
Pasalnya, jata dia, jumlah SD negeri di tiga kecamatan tersebut hanya sekitar 98 sekolah, sedangkan kuota jalur prestasi mencapai 102 kursi.
Selain itu, ia mengaku keberatan karena berkas pendaftaran anaknya disebut masih tertahan di sistem sehingga menghambat pendaftaran ke sekolah atau jalur lain.
Menurut Didi, informasi mengenai tidak lolosnya peserta bahkan sudah diketahui pada 25 Juni, sementara pengumuman resmi baru dijadwalkan pada 27 Juni.
“Mudahan panitia dan dinas bisa menyampaikan ke publik terkait dasar penilaiannya. Karena saya melihat ada kejanggalan,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SMP Negeri 1 Tenggarong, Imam Huzaeni, menjelaskan bahwa seluruh proses SPMB jalur prestasi menggunakan aplikasi daring yang disiapkan pemerintah.
Sekolah, kata dia, hanya bertugas memverifikasi kelengkapan dokumen yang diunggah calon peserta didik.
“SPMB menggunakan sistem online dan aplikasinya sudah disiapkan oleh pemerintah. Tugas sekolah hanya melakukan verifikasi berkas yang diunggah oleh calon peserta didik,” ujarnya.
Imam menjelaskan, penilaian jalur prestasi tidak hanya mengacu pada nilai rapor. Sistem juga menghitung nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) serta prestasi akademik maupun nonakademik yang dibuktikan melalui sertifikat.
Prestasi tersebut memiliki bobot berbeda sesuai tingkatannya, mulai dari kabupaten, provinsi hingga nasional. Seluruh komponen kemudian diakumulasi menjadi total poin yang digunakan sistem untuk menyusun peringkat peserta.
“Kalau ada orang tua yang menyampaikan anaknya peringkat satu di sekolah tetapi tidak diterima, kemungkinan bukti pendukung yang diunggah masih kurang,” katanya.
Ia menegaskan sekolah tidak memiliki kewenangan menentukan kelulusan peserta. Proses pemeringkatan dilakukan secara otomatis oleh aplikasi berdasarkan total poin masing-masing peserta.
“Saya sendiri sebagai kepala sekolah hanya bertindak sebagai penanggung jawab. Proses operasional aplikasi dijalankan oleh panitia,” jelasnya.
Imam juga menerangkan, kuota jalur prestasi sebesar 30 persen dari total daya tampung 340 siswa atau sebanyak 102 kursi. Sistem akan mengurutkan seluruh pendaftar berdasarkan total poin tertinggi hingga terendah. Peserta pada peringkat 1 sampai 102 dinyatakan lolos, sedangkan peringkat berikutnya otomatis tidak diterima karena berada di luar kuota.
Ia menambahkan, nilai yang tampil pada aplikasi merupakan nilai akumulasi dari rata-rata rapor semester 1 hingga 5, nilai TKA, serta poin sertifikat prestasi yang diunggah peserta.
Terkait keluhan berkas yang tidak bisa dicabut, Imam membantah adanya kendala tersebut. Menurutnya, selama masa pendaftaran berlangsung, orang tua masih dapat menarik berkas, memperbaiki data atau dokumen yang kurang tepat, kemudian mendaftarkan kembali.
“Kami memahami harapan orang tua agar anaknya diterima. Namun jumlah pendaftar sangat banyak, sementara kuota yang tersedia terbatas. Semakin lengkap bukti pendukung yang dimiliki, seperti sertifikat prestasi selain nilai rapor dan TKA, maka peluang memperoleh poin yang lebih tinggi juga semakin besar,” pungkasnya. (*)
