SAJAK.ID – Jarak antar pemukiman dan kondisi geografis menjadi tantangan besar dalam pemerataan air bersih di Kutai Kartanegara (Kukar). Di sejumlah wilayah, pembangunan jaringan distribusi membutuhkan biaya besar karena lokasi permukiman yang berjauhan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kukar dalam menjalankan program pembangunan 2026.
Pemerintah daerah tak hanya mengejar penambahan sambungan rumah, tetapi juga berupaya memperluas jangkauan jaringan agar lebih banyak masyarakat bisa menikmati layanan air bersih.
Kepala Dinas Perkim Kukar, M Aidil, mengatakan pihaknya menargetkan pemasangan sekitar 500 Sambungan Rumah (SR) tahun ini, di luar pemasangan yang dilakukan PDAM.
Namun, menurut Aidil, persoalan utama bukan semata-mata jumlah sambungan rumah. Jaringan distribusi yang belum menjangkau seluruh masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah.
“Kalau menurut data dari PDAM, bukan SR-nya yang memang kurang, memang jaringan kita yang belum menyasar sampai ke semua masyarakat,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (30/9/2026).
Karena itu, Perkim berencana berkoordinasi dengan PDAM untuk memperluas jaringan distribusi. Setelah jaringan menjangkau lebih banyak wilayah, pemasangan sambungan rumah dapat dilakukan secara bertahap mengikuti kesiapan infrastruktur.
Perhatian khusus juga diarahkan ke wilayah hulu dan pesisir. Salah satu rencana yang disiapkan adalah penyambungan jaringan dari Tukung Ritan menuju Muara Ritan dengan melintasi sungai.
Jika pembangunan jaringan tersebut terlaksana tahun ini, masyarakat di Muara Ritan berpeluang mendapatkan tambahan sambungan rumah.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan pendekatan berbeda bagi permukiman yang terlalu jauh dari jaringan PDAM. Perkim akan mengupayakan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) desa agar kebutuhan air bersih tetap bisa dipenuhi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada perluasan jaringan perpipaan.
Aidil mengatakan, layanan air bersih telah menjangkau seluruh kecamatan di Kukar. Meski begitu, pemerataan hingga tingkat desa masih membutuhkan pekerjaan lanjutan.
Saat ini, masih terdapat tiga desa yang belum terlayani secara maksimal. Desa Kupang Baru dan sejumlah desa di kawasan pantai termasuk dalam wilayah yang menjadi perhatian.
“Kalau satu permukiman itu tidak terlayani PDAM, kita akan mencoba membangun SPAM desa,” jelasnya.
Program air bersih tersebut merupakan bagian dari prioritas Perkim Kukar tahun ini, bersama penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), air limbah, serta sarana dan prasarana fasilitas umum.
Pemerintah daerah menargetkan pembangunan SPAM desa dapat diselesaikan pada 2027, sehingga masyarakat di wilayah yang selama ini sulit dijangkau memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan akses air bersih. (Adv/Dd)
