SAJAK.ID – Bayangkan Anda mengikuti lomba lari yang panjangnya ribuan kilometer.
Di garis start berdiri jutaan peserta.
Namun ketika Anda mendekati garis finis, tidak terlihat seorang pun.
Tidak ada pemenang.
Tidak ada jejak bahwa seseorang pernah berhasil sampai.
Pertanyaan yang muncul tentu sederhana.
Apa yang terjadi di tengah perjalanan?
Dalam dunia kosmologi, pertanyaan itu dikenal sebagai Great Filter atau “Penyaring Besar.”
Sebuah gagasan yang mencoba menjawab misteri Paradoks Fermi.
Jika kehidupan begitu mudah muncul di alam semesta, mengapa kita tidak melihat peradaban-peradaban maju di mana-mana?
Salah satu jawabannya adalah adanya sebuah tahapan yang sangat sulit dilewati.
Tahapan itulah yang disebut Great Filter.
Ia bisa muncul di mana saja dalam perjalanan evolusi.
Mungkin kehidupan sederhana sangat jarang terbentuk.
Mungkin sel pertama hampir mustahil muncul.
Mungkin organisme multisel adalah keajaiban yang sangat langka.
Atau mungkin kehidupan cerdas memang sering lahir, tetapi hampir semuanya punah sebelum mampu menjelajahi antariksa.
Pertanyaan yang lebih menggelisahkan adalah ini.
Apakah Great Filter sudah berada di belakang kita… atau justru masih menunggu di depan?
Jika berada di belakang, berarti manusia termasuk peradaban yang sangat beruntung.
Kita telah melewati tahap yang hampir mustahil.
Namun jika Great Filter masih ada di depan, maka masa depan menjadi jauh lebih mengkhawatirkan.
Bisa jadi setiap peradaban yang mencapai tingkat teknologi tertentu akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.
Melalui perang nuklir.
Krisis iklim.
Kecerdasan buatan yang tak terkendali.
Pandemi buatan.
Atau bentuk bencana lain yang belum pernah kita bayangkan.
Sejarah manusia sebenarnya penuh dengan contoh kecil tentang Great Filter.
Peradaban besar pernah runtuh karena kelaparan.
Kerajaan hilang akibat wabah.
Pulau-pulau menjadi kosong karena eksploitasi alam yang berlebihan.
Dalam skala kosmik, mungkin pola yang sama terjadi.
Bedanya, kali ini yang dipertaruhkan bukan sebuah negara.
Melainkan sebuah spesies.
Ironisnya, semakin maju teknologi manusia, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.
Energi nuklir dapat menerangi kota.
Tetapi juga dapat menghancurkannya.
Kecerdasan buatan mampu mempercepat ilmu pengetahuan.
Namun jika disalahgunakan, dampaknya juga dapat melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya.
Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerusakan lingkungan menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tanpa kebijaksanaan bisa menjadi ancaman bagi peradaban itu sendiri.
Great Filter bukanlah ramalan bahwa manusia pasti akan punah.
Ia adalah sebuah peringatan.
Bahwa bertahan hidup sebagai peradaban mungkin jauh lebih sulit daripada sekadar menjadi cerdas.
Membangun teknologi ternyata lebih mudah daripada membangun kebijaksanaan.
Menciptakan mesin lebih mudah daripada menciptakan perdamaian.
Menguasai alam lebih mudah daripada mengendalikan keserakahan.
Mungkin, suatu hari nanti manusia akan menemukan kehidupan cerdas di planet lain.
Atau mungkin tidak pernah.
Namun sebelum pertanyaan itu terjawab, ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
Apakah manusia mampu melewati tantangan-tantangan yang diciptakannya sendiri?
Karena bisa jadi, Great Filter bukanlah tembok yang dibangun oleh alam semesta.
Melainkan cermin yang memperlihatkan kelemahan terbesar setiap peradaban.
Dan masa depan umat manusia akan ditentukan oleh satu hal yang sederhana namun sangat sulit diwujudkan.
Bukan seberapa canggih teknologi yang berhasil kita bangun.
Melainkan seberapa bijaksana kita menggunakannya. (*)
