Ahmad Yani saat berbicara di hadapan ratusan mahasiswa baru Unikarta.
SAJAK.ID — Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani mengajak mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) melihat Kukar bukan hanya sebagai daerah dengan kekayaan sumber daya alam.
Di balik luas wilayah dan 20 kecamatan yang dimilikinya, terdapat kekayaan lain yang menurutnya tak kalah penting: adat dan budaya.
Pesan itu disampaikan Ketua DPRD Kukar tersebut ketika menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unikarta, Selasa (25/8/2026).
Yani meminta mahasiswa tidak menjadi penonton terhadap kebudayaan yang tumbuh di lingkungan mereka.
Ia justru mendorong mahasiswa peka terhadap tradisi dan identitas budaya yang ada di desa masing-masing.
“Di Kukar ada 20 kecamatan dan wilayahnya sangat luas. Karena itu, banyak budaya yang berkembang. Ini kekayaan yang harus kita jaga,” kata Yani.
Menurutnya, adat dan budaya tidak cukup hanya dipelihara sebagai peninggalan masa lalu. Kekayaan tersebut harus dikembangkan agar memiliki nilai bagi masyarakat dan daerah. Salah satunya melalui wisata budaya.
Yani melihat kebudayaan sebagai kekayaan yang berada di luar sumber daya alam. Jika dikelola dengan baik, budaya dapat menjadi identitas daerah sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berkarya.
“Adat dan budaya ini harus kita kembangkan menjadi wisata budaya. Ini kekayaan kita di luar sumber daya alam,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta mahasiswa Unikarta ikut mengambil peran. Menurutnya, harus ada generasi muda yang secara serius mendokumentasikan, mempromosikan, dan mengembangkan identitas budaya Kukar.
Mahasiswa juga diminta tidak melupakan akar tempat mereka berasal.
“Mahasiswa harus ada yang konsen mengurus ini agar terus berkarya untuk Nusantara. Promosikan identitas budaya yang ada di Kukar,” kata Yani.
Pesan tentang budaya itu sejalan dengan arah pembangunan Kukar yang, menurut Yani, tetap menempatkan aspek kebudayaan sebagai bagian penting dalam RPJMD.
Yani bilang pembangunan tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan fisik dan ekonomi. Identitas masyarakat harus tetap dirawat melalui pelestarian adat dan budaya.
Di tengah keberagaman tersebut, Yani juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kerukunan antarumat beragama.
Baginya, keberagaman budaya dan agama di Kukar bukan alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan yang dirawat bersama.
Di akhir pesannya, Yani kembali mengingatkan mahasiswa tentang alasan mereka berada di bangku kuliah.
Pendidikan, kata dia, harus menjadi perjuangan yang diselesaikan dengan sungguh-sungguh.
“Pendidikan harus menjadi prioritas. Terus belajar dan jadilah orang yang sukses serta bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. (Ard)
